Oleh : Cahyo Kurnia Perdana
Pesta akbar demokrasi negeri ini kembali tiba. Berjamurnya para caleg sekarang seakan ingin menunjukan bahwa Indonesia siap menjadi negara demokrasi terbesar di dunia. Sebuah hal yang lumrah karena setiap orang di negara ini berhak untuk memilih dan dipilih. Namun apakah seluruh caleg yang jumlahnya mencapai 11.225 orang yang terdaftar dalam Daftar Calon Tetap (DCT) DPR RI benar-benar berkualitas? Sekadar catatan, parpol yang mengusung caleg hanya butuh 2,5 persen saja dari surat suara sah nasional untuk lolos Parliamentary Threshold (PT) agar bisa duduk di kursi dewan.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) memberi jatah waktu kampanye sekitar 9 bulan 10 hari yang dimulai sejak Juli tahun lalu. Kampanye terbuka nya sendiri baru dimulai sejak tanggal 17 Maret hingga 5 April 2009. Wajah-wajah para caleg terpampang di berbagai penjuru Ibukota hingga pelosok desa. Para caleg saling beradu strategi untuk menarik simpati masyarakat. Namun semua itu tampaknya belum berhasil memupus keraguan yang ada di masyarakat, apakah para caleg tersebut mampu menjawab banyak persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini atau tidak.
Kreatifitas para caleg dalam berkampanye sepertinya semakin meningkat tahun ini. Mereka tak segan-segan tampil unik bahkan cenderung konyol dengan berpakaian Superman atau bersanding di spanduk dengan salah satu tokoh kartun anak-anak yaitu Naruto. Saya jadi berandai-andai sendiri bagaimana jika ada caleg yang berpenampilan ala Sailormoon atau Doraemon.
Jumlah partai yang ikut Pemilu tahun ini lebih bnayak dibandingkan Pemilu 2004. Totalnya ada 44 partai, 6 diantaranya partai lokal Aceh. Kertas suara yang akan digunakan untuk Pemilu caleg kali ini pun menuai banyak keluhan. Umumnya masyarkat mengeluhkan ukurannya yang terlalu besar sehingga mirip taplak meja. Faktor ini sedikit banyak akan membingungkan masyarakat dalam pemilihan nanti.
Pemilu adalah Panggung Sandiwara
Pemilu dianggap sebagai panggung sandiwara. Memilih diibaratkan membeli tiket untuk melihat pemain kebanggaan kita berlaga di parlemen atau duduk di pemerintahan. Memainkan lakon sesuai skenario yang sudah dipelajari. Syukur-syukur happy ending, tapi bagaimana kalau berakhir dengan sebuah penderitaan dan kesedihan?
Sebagian kalangan sudah letih dengan banyaknya pemilihan. Mulai dari pemilihan Bupati hingga Presiden, nyatanya belum mampu menjawab kebutuhan mereka akan perubahan yang lebih baik. Tak heran jika salah satu jalan yang dipilih oleh masyarakat yang kecewa adalah bersikap apatis, artinya mereka memutuskan untuk tidak memilih atau menjadi golongan putih (golput). Sikap ini dapat menghilangkan salah satu hak WNI yang terwujud dalam UUD 1945 yang menyatakan kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat.
Santernya wacana golput semakin menyeruak ke permukaan belakangan ini. Ditambah lagi Presiden ke-4 RI, KH. Abdurahman Wahid telah mendeklarasikan diri untuk tidak menggunakan hak suaranya saat Pemilu nanti.
Saya miris melihat seorang tokoh yang seharusnya berpartisipasi membawa perubahan positif bagi negara serta memberikan pemahaman arti demokrasi, malah bersikap kontra Pemilu. Seharusnya ia tidak menutup mata dan telinga di tengah kemerihaan suasana pemilu.
Namun saya masih percaya bahwa Indonesia akan menemukan figur yang mampu membenahi carut-marut negeri ini. Saya sangat tidak sepakat dengan ramalan Permadi, bahwa pemilu 2009 akan kacau balau dan Indonesia akan dipimpin oleh seseorang yang otoriter. Saya yakin Tuhan masih memberi kesempatan kedua untuk kembalinya sang Macan Asia. Ini bukan berarti saya seorang konstituen Partai Gerindra lho.
*Penulis adalah Redpel Media Publica periode 2008-2009.

