Hampir tiga tahun yang lalu, tepatnya 15 Maret 2005, Media Publica berkesempatan untuk berkunjung ke rumah salah seorang sastrawan terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini. Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada seorang teman dari penerbitan buku Melibas, Mudjip, karena atas bantuannya pula perjalanan ini dapat terlaksana.
Lahir pada tanggal 6 Februari 1925, Pramoedya Ananta Toer menghasilkan puluhan karya sastra yang telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Karyanya yang paling fenomenal adalah empat buah judul novel, yang dikenal sebagai Tetralogi Buru, yang ia tulis ketika sedang dipenjara dalam pengasingan. Pada bulan Maret 2006, beliau wafat karena komplikasi sakit yang dideritanya. Inilah sebagian hasil wawancara kami dengan Pramoedya Ananta Toer kala itu. Demi mengenang dua tahun wafatnya sastrawan besar bangsa ini..
Media Publica (MP): Buku-bukunya Bung Pram banyak yang dilarang. Padahal sebenarnya saya juga sampai sekarang tidak tahu bahayanya dimana. Bagaimana pendapat Bung Pram?
Pramoedya Ananta Toer (PAT): Pelarangan itu untuk saya suatu kehormatan. Bayangkan, satu individu menghadapi negara. Bukannya itu suatu kehormatan?
MP: Sekaligus bisa menjadi publikasi gratis mungkin Pak?
PAT : hehe.. Ya buktinya sekarang diterjemahkan di seluruh dunia dalam 40 bahasa.
MP: Sekarang kan masih belum dicabut Perpu-nya. Apa Bung Pram tidak berupaya untuk mengusahakannya?
PAT: Nggak, itu kehormatan untuk saya. Satu individu mengahadapi negara.
MP: Itu kan juga bisa berpengaruh kepada yang lain Bung Pram. Bahwa ada satu kondisi dimana negara tetap melakukan kekerasan terhadap penulis.
PAT: Ya penulisnya harus melawan. Kalau dibiarkan saja, bisa keterusan.
MP: Melawannya bagaimana Bung Pram?
PAT: Ya dengan segala cara, publikasi lebih banyak lagi.
Mudjip (Mu): Bukan dengan senjata? Hehe
PAT: Lain dengan Malaysia. Disana, pengarang dimasukkan kedalam aset negara. Disini pengarang ditendang-tendang.
MP: Kalau bung tadi bilang tidak terlalu mengikuti perkembangan sastra di Indonesia, bagaimana dengan perkembangan politik?
PAT : Mengikuti dari koran.
MP: Bagaimana pendapat Bung Pram dengan pemerintahan sekarang?
PAT: Ya semua itu menuju ke pembusukan. Coba, problem Indonesia itu apa sebenarnya? Konsumsinya jauh lebih banyak dari produksinya! Ini problem nasionalnya. Itu yang melahirkan benua korupsi sehingga susah untuk diberantas. Malah kita dapat kehormatan nomor satu koruptor!
Produksi Nasional
PAT: Waktu saya masih kanak-kanak, praktis setiap rumah tangga berproduksi. Sekarang nggak lagi. Rumah tangga hanya jadi sarang peternakan diri saja. Ini problemnya! Lihat itu, berapa angkatan muda berderet sepanjang jalan menunggu penumpang, tanpa berproduksi apa-apa! Ya coba lah untuk berproduksi. Menunggu penumpang boleh saja. Tapi bikin kerajinan tangan kek, atau apa. Pokoknya harus berproduksi! Karena produksi itu jalan pembentukan karakter. Tidak ada produksi, ya tidak ada karakter! Yang disebut produksi bisa apa saja, menulis, main musik, melukis, membuat kerajinan tangan, apa saja. Sori ya saya ngomong begini. Soalnya saya tahu perbedaan jaman kolonial dengan tahun 50-an dan sekarang ini.
MP: Ya banyak juga Bung Pram yang mencoba untuk berproduksi, misalnya dengan menjadi buruh. Tetapi kan kita tahu, negara pun tidak memberikan jaminan dan upah layak bagi buruh.
PAT: Persoalan buruh begini. Indonesia sudah lama terkenal sebagai bangsa kuli! Juga dianggap kuli diantara bangsa-bangsa lain, karena tidak berproduksi. Hanya jadi suruhan saja. Berapa banyak setiap tahun orang keluar negeri hanya untuk menjadi buruh ilegal? Hanya untuk menjadi kuli saja! Sehingga apa.. kliping saya tentang buruh imigran itu makin lama lebih cepat meninggi! Masa orang ingin menjadi kuli saja berebut keluar negeri! Yang mengatakan Indonesia adalah bangsa kuli pada awalnya adalah Jerman. Tapi Soekarno membenarkan. Dan sekarang kenyataan lebih membenarkan lagi! Hanya untuk jadi kuli rebutan gak karuan ke luar negeri!
Politik bilateral
MP: Kemudian ada politik-politik kontemporer, tentang pernyataan pemerintah konfrontasi dengan Malaysia. Bagaimana pendapat Bung Pram?
PAT: Kalau pendapat saya terhadap Malaysia, tembak saja! Biang keladi dari dulu! Waktu jaman Soekarno, Malaysia mengirimkan senjata kepada para pemberontak. Sekarang menghabiskan hutan kita! Kalau menurut saya, tembak saja!
MP: Sudah tidak ada kompromi lagi ya?
PAT : Nggak ada. Sudah menyangkut wilayah kedaulatan soalnya. Nggak tau kenapa Malaysia merongrong terus.
Ketika ditanya tentang kasus Ambalat (pada bulan Maret 2005, kasus ini menjadi berita hangat di media massa), beliau mendukung penuh pemerintah RI untuk mempertahankan Pulau Ambalat. Menurutnya, Malaysia selalu menjadi biang kerok setiap konflik yang terjadi Indonesia-Malaysia. Terlihat dari pendapatnya yang geram sekali dengan Malaysia, “Kalau menurut saya soal Ambalat, Malaysia tembak saja!”


1 Comment
24 March, 2008 at 3:06 pm
keren…