Oleh: Melyna A. Hamid
Beberapa hari yang lalu, saya menyempatkan diri menonton film yang menjadi incaran belakangan ini. Untungnya, saya mudah mendapatkan tiketnya tanpa harus mengantri lama. Tapi saya sempat heran karena melihat barisan wanita berkerudung yang memenuhi pelataran studio Planet Hollywood. Oh, saya baru ngeh mereka adalah ‘pasukan pengincar’ Ayat-Ayat Cinta The Movie.
Tepat 13.00, saya memasuki studio yang ternyata cukup ramai diisi beragam manusia. Dari ibu-ibu, bapak-bapak, anak muda sampai anak balita yang masih dalam gendongan ibunya. Tak ketinggalan juga para wanita berkerudung tadi. Kok jadi kelihatan seperti reuni akrab keluarga besar begini, batin saya.
Saya duduk diantara anak-anak muda yang menonton bersama pasangannya, tepatnya di deretan bangku bertitel “B”. Saya benar-benar ingin menikmati film ini tanpa gangguan karena saya juga sangat menantikan film yang beberapa kali diundur tanggal tayangnya.
Satu jam, dan bahkan sampai nyaris dua jam film masih terasa biasa saja, sampai akhirnya pada adegan dimana Maria menikah dengan Fahri di rumah sakit, dan Aisyah memilih keluar dan menangis. Disini mata saya langsung berkaca-kaca, entah karena melihat keikhlasan hati Aisyah atau karena akhirnya Maria mendapatkan cintanya Fahri setelah melalui pengorbanan yang menyakitkan hati.
15.20 saya keluar dari studio dan sedikit kecewa. Ternyata filmnya tidak sebagus dan seindah novelnya. Ketika membaca novelnya, saya bisa membayangkan keindahan Mesir, merasakan keikhlasan dan kesederhanaan hati Aisyah, merasakan penderitaan Fahri dalam penjara, dan mengerti kenapa Noura memilih untuk memfitnah Fahri demi cintanya.
Namun, semua yang saya harapkan hilang begitu saja ketika melihat cerita Ayat-Ayat Cinta dalam sebuah gambar bergerak. Tingkah laku Aisyah tidak seperti yang saya bayangkan. Di film, Aisyah terlihat begitu kekanak-kanakkan dengan suaranya yang manja ketika bersama Fahri. Aisyah pun tampak glamor dengan merekam Fahri lewat handycam-nya (adegan kurang penting), lalu saat Aisyah mengganti komputer butut Fahri dengan sebuah laptop mahal.
Dalam film, Fahri tampak seperti pria pemberontak saat di penjara dan terlihat sangat tidak ikhlas. Seingat saya, tidak ada adegan “poligami” dalam arti sesungguhnya dalam novel. Tak ada cerita Aisyah merasa cemburu dengan Maria dan memilih untuk mengasingkan diri sementara. Lalu, darimana skenario menambahkan porsi poligami yang tidak seharusnya ada? Hal ini menimbulkan kontorversi.
Kemarin malam, saya lihat interview Hanung disalah satu stasiun TV swasta. Jawaban Hanung, “Karena sesuatu yang kontroversi bisa menarik minat masyarakat untuk menontonnya dan mencari tahu”.
Kalau itu yang menjadi alasannya, pantas kebanyakan sutradara dan produser film akan membuat film yang serupa demi meraup keuntungan dari rasa penasaran masyarakat. Jadi bisa terbayang, kira-kira film apalagi yang akan muncul. Mungkin film mengenai poliandri?
Memang berbeda keindahan cerita di novel dan di film. Menurut saya, keindahan cerita dari novelnya tidak tergambar dengan baik melalui filmnya. Sangat disayangkan. Meski begitu, tetap saja film ini akan menjadi salah satu film laris di Indonesia karena mampu menarik penonton dari semua lapisan umur.


3 Comments
12 March, 2008 at 10:05 am
mungkin karena film yg “diadaptasi” dari novel, jadinya tdk sama persis. klo saya boleh simpulkan, film ini bukan terfokus pada kisah cinta 2 (atau 5) org manusia, tapi juga rasa cinta seorang Fahri thd sang Khalik dg menyenangkan hati orang tuanya, menghargai seorang kafir sbg makhluk Allah yg jg berhak diberi perlindungan. Dan pada akhirnya bersedia berpoligami atas permintaan sang istri sendiri.
12 March, 2008 at 11:51 am
yah sulitlah….bukuu setebal dan cerita seluas novel sangat sulit dijadikan film hanya dengan durasi 2 jam…
12 March, 2008 at 3:13 pm
Untuk Dhynar, jika anda mengatakan bahwa film ini bukan terfokus “pada kisah cinta 2 (atau 5) org manusia, tapi juga rasa cinta seorang Fahri thd sang Khalik dg menyenangkan hati orang tuanya, menghargai seorang kafir sbg makhluk Allah yg jg berhak diberi perlindungan. Dan pada akhirnya bersedia berpoligami atas permintaan sang istri sendiri.”
Lalu film ini terfokus dalam apa?
Untuk Jatmik, sudah membaca kompas hari ini (12 Maret 2008)? di bagian belakangnya, dalam rubrik sosok, ada seorang tuna netra yang bekerja sebagai guru privat matematika dan fisika untuk anak-anak SMP dan SMA bergengsi.
Saya suka dengan semangatnya yang terinspirasi dari Napoleon Bonaparte, “tak ada kata tidak bisa dalam kamus hidup.”