29 February, 2008...2:59 pm

In Memoriam Gie

Jump to Comments

Oleh: Arief Aulia Tamponek

 

Soe Hok Gie (17 Desember 194216 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 19621969. Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin.

Anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, kelahiran Jakarta tanggal 17 Desember 1942 ini sejak kecil amat suka membaca, mengarang dan memelihara binatang. Keluarga sederhana itu tinggal di bilangan Kebon Jeruk, di suatu rumah sederhana di pojokan jalan, bertetangga dengan rumah orang tua Teguh Karya. Saudara laki-laki satunya Soe Hok Djien, kakaknya, yang dikenal dengan nama Arief Budiman, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.

Pada saat duduk di bangku SMP, ia semakin berani dalam membela ideologinya yang ia anggap benar terhadap tindakan semena-mena sang guru. Sekali waktu, Soe pernah berdebat dengan guru SMP-nya. Tentu saja guru itu naik pitam. Dengan kejadian ini, ia pun mengeluarkan pernyataan bahwa guru bukan dewa yang selalu benar dan murid bukan kerbau.

Ia adalah seorang pemuda yang berpendirian teguh dalam memegang prinsip-prinsipnya serta rajin menuliskan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran.

Saat itu, Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Skripsi sarjana mudanya tentang Sarekat Islam Semarang tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul ‘Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan’.

Suatu hari, Soe Hok Gie berangkat ke Gunung Semeru bersama ketujuh temannya, yaitu Idhan Dhanvantari Lubis, Rudy Badil, Aristides Katoppo, Wiwiek A Wiyana, A Rachman, Herman Lantang, dan Freddy Lasut. Dari ketujuh sahabat ini hanya lima orang saja yang mampu pulang dan menginjakan kaki kembali di kampung halaman mereka.

Soe Hok Gie meninggal di Gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.

3 Comments

  • Soe Hok Gie, sedikit dari pemudah Indonesia yang peduli dengan nasib rakyatnya.
    Konon ia merenung di gunung lantaran kecewa dengan teman-temannya seangkatan (66).

  • Sebenarnya, masih banyak yang bisa digali dari pribadi Gie. Dari filmnya saja banyak yang bisa kita contoh dari Gie. Sisi melankolisnya itu lho, ga nahaaannn.. ;p

  • biasa2 tapi tajam itulah sosok seorang pengkritis yang berpegang teguh pada pendiriannya……
    tapi manusia tetaplah seorang manusia yang bisa mencipta dan tidak dapat menduga apa-2 yang akan terjadi,,,,,,,,. di umur yang produktif itulah dia membuat bangga para mahasiswa dijamannya dan sekarang pun juga >>>>>>perjuangan masih terus mengalir seiring dengan waktu yang terus berjalan ku harapkan akan ada malah banyak sosok gie di bumi pertiwi ini??


Leave a Reply