7 May, 2009

Pekan Jurnalistik 2009 : “Let’s Communicate With Journalism”

4497_1105176123700_1655671815_253853_220475_n

BAZAAR BUKU & DONASI BUKU

Hari/tanggal: Rabu – Jumat / 27 – 29 Mei 2009
Tempat: Pelataran Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama)
Kegiatan: Bazaar buku,  booth sponsor, dan acara sumbang buku dari peserta kegiatan dan masyarakat kampus untuk didonasikan ke Perpustakaan Kandang Jurang Dik Doank.

PAMERAN FOTO JURNALISTIK

Hari/tanggal: Rabu – Jum’at/ 27 – 29 Mei 2009
Tempat:
Tempat Parkir Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama)

LOMBA MADING

Hari/ tanggal: Rabu, 27 Mei 2009
Tempat: Lab. Humas Lt. 3 Kampus FIKOM Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama)

ONE DAY SEMINAR

Hari/ tanggal: Kamis, 28 Mei 2009
Tempat: Lab. Humas Lt. 3 Kampus FIKOM Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama)

Seminar Teknik Peliputan dan Penulisan Berita.
Pembicara: Andreas Harsono (Wartawan Senior)

Seminar Fotografi Jurnalistik.
Pembicara: Arbain Rambey (Wartawan dan Fotografer Senior KOMPAS)

Seminar Tata Letak dan Perwajahan Majalah
Pembicara: Joko Hartanto (Publisher Majalah Concept)

TALKSHOW

Hari/ tanggal: Jumat, 29 Mei 2009
Tempat: Lab. Humas Lt. 3 Kampus FIKOM Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama)

Jurnalistik Olahraga : Memburu Berita Sampai ke Lapangan Pertandingan
Pembicara: Ian Situmorang* (Pemimpn Redaksi Tabloid Bola)

Jurnalistik Musik : Keselarasan Irama dan Melodi dalam Tulisan
Pembicara: Wendi Putranto (Editor Majalah Rolling Stones Indonesia)

Fun Blogging
Pembicara: Raditya Dika (Blogger/penulis buku Kambing Jantan)

*dalam konfirmasi

Pemesanan tiket atau info lebih lanjut silahkan hubungi:
Qory: 085692211995 / 021.91008718
Johan: 08561822444
Melly: 08561883896
Octya: 085691192572/021.9906863
Rasyid: 08568864160

13 May, 2009

Press Release Pekan Jurnalistik Media Publica 2009: “Let’s Communicate with Journalism”

PRESS RELEASE

Menyikapi minimnya acara yang bernafaskan jurnalistik dan tingginya apresiasi generasi muda sekarang ini terhadap jurnalisme, maka Media Publica sebagai Lembaga Pers  Mahasiswa berinisiatif untuk menghidupkan aura dan semangat Jurnalistik di Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) dengan menyelenggarakan “Pekan Jurnalistik : Let’s Communicate With Journalism”.


Acara ini juga diadakan bertepatan sebelum tahun ajaran baru 2009/2010 dengan maksud untuk membawa nama baik kampus dan mempromosikan Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) kepada masyarakat umum; siswa/i SMA Se-Jabodetabek pada khususnya dan mahasiswa/i se-Jabodetabek pada umumnya.


Pada saat sekarang ini, Jurnalistik merupakan bagian yang besar dari masyarakat kita. Jurnalistik memegang andil yang sangat besar dalam penyebarluasan informasi  dari narasumber terhadap khalayak. Jika kita ingin mencari tahu mengenai suatu berita atau informasi, maka kita akan mencarinya dari produk-produk Jurnalistik.


Jurnalistik adalah sebuah ranting kecil yang berasal dari pohon Ilmu Komunikasi.  Jurnalistik adalah media penyampaian pesan yang sangat membumi. Meskipun kecanggihan teknologi semakin harinya berkembang pesat, tapi esensi Jurnalistik dasar tak dapat dihapuskan.


Maka dari itu, dengan segala kerendahan hati dan rasa syukur kami, tepat rasanya jika tema besar yang kami ambil untuk Pekan Jurnalistik kali ini adalah “Let’s Communicate With Journalism.”

Informasi lebih lanjut, hubungi :
Johan  (0856 1822 444/ 9344 2112)
Melly   (0856 1883 896)

7 April, 2009

Pemilu 2009; Kesempatan Kedua Untuk Indonesia

Oleh : Cahyo Kurnia Perdana


Pesta akbar demokrasi negeri ini kembali tiba. Berjamurnya para caleg sekarang seakan ingin menunjukan bahwa Indonesia siap menjadi negara demokrasi terbesar di dunia. Sebuah hal yang lumrah karena setiap orang di negara ini berhak untuk memilih dan dipilih. Namun apakah seluruh caleg yang jumlahnya mencapai 11.225 orang yang terdaftar dalam Daftar Calon Tetap (DCT) DPR RI benar-benar berkualitas? Sekadar catatan, parpol yang mengusung caleg hanya butuh 2,5 persen saja dari surat suara sah nasional untuk lolos Parliamentary Threshold (PT) agar bisa duduk di kursi dewan.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) memberi jatah waktu kampanye sekitar 9 bulan 10 hari yang dimulai sejak Juli tahun lalu. Kampanye terbuka nya sendiri baru dimulai sejak tanggal  17 Maret hingga 5 April 2009. Wajah-wajah para caleg terpampang di berbagai penjuru Ibukota hingga pelosok desa. Para caleg saling beradu strategi untuk menarik simpati masyarakat. Namun semua itu tampaknya belum berhasil memupus keraguan yang ada di masyarakat, apakah para caleg tersebut mampu menjawab banyak persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini atau tidak.

Kreatifitas para caleg dalam berkampanye sepertinya semakin meningkat tahun ini. Mereka tak segan-segan tampil unik bahkan cenderung konyol dengan berpakaian Superman atau bersanding di spanduk dengan salah satu tokoh kartun anak-anak yaitu Naruto. Saya jadi berandai-andai sendiri bagaimana jika ada caleg yang berpenampilan ala Sailormoon atau Doraemon.

Jumlah partai yang ikut Pemilu tahun ini lebih bnayak dibandingkan Pemilu 2004. Totalnya ada 44 partai, 6 diantaranya partai lokal Aceh. Kertas suara yang akan digunakan untuk Pemilu caleg kali ini pun menuai banyak keluhan. Umumnya masyarkat mengeluhkan ukurannya yang terlalu besar sehingga mirip taplak meja. Faktor ini sedikit banyak akan membingungkan masyarakat dalam pemilihan nanti.


Pemilu adalah Panggung Sandiwara
Pemilu dianggap sebagai panggung sandiwara. Memilih diibaratkan membeli tiket untuk melihat pemain kebanggaan kita berlaga di parlemen atau duduk di pemerintahan. Memainkan lakon sesuai skenario yang sudah dipelajari. Syukur-syukur happy ending, tapi bagaimana kalau berakhir dengan sebuah penderitaan dan kesedihan?

Sebagian kalangan sudah letih dengan banyaknya pemilihan. Mulai dari pemilihan Bupati hingga Presiden, nyatanya belum mampu menjawab kebutuhan mereka akan perubahan yang lebih baik. Tak heran jika salah satu jalan yang dipilih oleh masyarakat yang kecewa adalah bersikap apatis, artinya mereka memutuskan untuk tidak memilih atau menjadi golongan putih (golput). Sikap ini dapat menghilangkan salah satu hak WNI yang terwujud dalam UUD 1945 yang menyatakan kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat.

Santernya wacana golput semakin menyeruak ke permukaan belakangan ini. Ditambah lagi Presiden ke-4 RI, KH. Abdurahman Wahid telah mendeklarasikan diri untuk tidak menggunakan hak suaranya saat Pemilu nanti.

Saya miris melihat seorang tokoh yang seharusnya berpartisipasi membawa perubahan positif  bagi negara serta memberikan pemahaman arti demokrasi, malah bersikap kontra Pemilu. Seharusnya ia tidak menutup mata dan telinga di tengah kemerihaan suasana pemilu.

Namun saya masih percaya bahwa Indonesia akan menemukan figur yang mampu membenahi carut-marut negeri ini. Saya sangat tidak sepakat dengan ramalan Permadi, bahwa pemilu 2009 akan kacau balau dan Indonesia akan dipimpin oleh seseorang yang otoriter. Saya yakin Tuhan masih memberi kesempatan kedua untuk kembalinya sang Macan Asia. Ini bukan berarti saya seorang konstituen Partai Gerindra lho.


*Penulis adalah Redpel Media Publica periode 2008-2009.